Self Identity House

Karya: Ivan Resha Satriatama & Nidia Safiana Sutedja
Asal Kampus: Universitas Katholik Parahyangan, Bandung
Luas Tanah: 90 m2
Keterangan: Juara III Sayembara Desain Rumah Ramah Lingkungan 2009


Memberi identitas rumah dengan personalisasi fasad dan memaksimalkan pengudaraan serta pencahayaan alami melalui massa bangunan terpisah.

Fenomena hunian dalam perumahan yang kerap menampilkan desain bangunan yang seragam menjadi pertimbangan utama Ivan Resha S dan Nidia Safiana S ketika menggagas karyanya. Menurut mereka, kehidupan masyarakat urban yang penuh aktifitas selayaknya diakomodasi sebuah hunian yang dapat merefleksikan karakter pemiliknya. Hunian bukan sekadar tempat berlindung namun juga tempat mengekspresikan diri sebebasnya.

Denah lantai 1 (kiri), Denah lantai 2 (kanan)

Setiap manusia adalah pribadi yang unik, sehingga rumah sebagai cerminan pribadi pemiliknya tentunya memiliki identitas yang berbeda dari hunian yang lain. “Karena untuk produksi massal fenomena real estate biasanya homogen. Padahal, orang yang tinggal heterogen. Dari situ kita berpikir mengakomodasi identitas pemilik pada bangunan rumah,“ kata Nidia, mahasiswi arsitektur semester dari Unika Parahyangan (Bandung) itu. 

Secondary skin

Pemilik dapat memberikan identitas pribadinya pada desain fasad sebagai salah satu area ekspresif yang dapat terlihat oleh orang lain. Tampak depan di bagian atas dirancang dengan tambahan penutup (secondary skin) dengan pilihan material yang bisa disesuaikan dengan keinginan pemilik. Bisa terbuat dari sisa-sia kayu, bambu, bahan logam dan lain-lain. Tambahan bidang itu didesain dengan pola persegi empat yang disusun maju-mundur.

Fenomena lain pada real estate yang diamati adalah seringnya terjadi  penambahan elemen-elemen pada bangunan yang tidak tepat. Misalnya, tambahan atap carport yang dibentuk macam-macam dan tidak cocok dengan tampilan tampaknya. Untuk mengantisipasi hal itu bagian carport pada rancangan rumah ini sebagian ternaungi oleh massa bangunan atas yang didesain lebih menjorok keluar. 

Massa bangunan terpisah

Sementara untuk merespon isu ramah lingkungan, desain bangunan diutamakan menggunakan prinsip hemat energi. Penataan massa bangunan diusahakan tidak saling menempel ke dinding rumah lain untuk memaksimalkan aliran udara dan cahaya alami ke dalam bangunan. Massa bangunan dipisah menjadi dua bagian dan dihubungkan dengan koridor semi terbuka. Ruang-ruang di lantai bawah terhubung langsung dengan taman samping dan inner courtyard yang dilengkapi kolam pantul.

Koridor di lantai atas juga dibuat semi terbuka untuk mengoptimalkan view ke taman bawah. Dinding pembatas ruangan yang bersifat publik dan semipublik dibuat dengan bukaan-bukaan yang lebar berupa jendela pivot yang bisa dibuka-tutup secara maksimal. Sedangkan sisi dinding selebar satu meter di bagian kiri dan kanan rumah didesain dengan susunan bata rooster yang bisa dirambati tanaman.

Komentar Juri Tamu

Denny Gondo

Massa bangunan yang tidak menempel satu sama lain memang fungsional untuk mengalirkan udara dari dan ke dalam ruang dengan optimal. Rumah ini tentu sangat nyaman aliran udaranya. Ide menampilkan desain tampak yang bisa berbeda-beda antara satu rumah dengan rumah lainnya menarik dan praktis.

Suyamat

Saya terkesan dengan ide fasad yang dapat disesuaikan dengan keinginan pemilik rumah.  Konsep itu cukup aplikatif untuk developer. Koreksi utamanya terkait dengan dimensi ruang saja. Mereka sangat berkonsentrasi terhadap energi, kiri-kanan dibuka, sehingga ruang-ruang yang harus diutamakan kenyamanannya agak dikalahkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>