Rumah Bambu Fleksibel

Karya: Evan Aria Putra & Wijaya Suryanegara Yapeter
Asal Kampus: Universitas Kristen Petra, Surabaya
Luas Tanah: 90 m2
Keterangan: Juara Harapan I Sayembara Desain Rumah Ramah Lingkungan 2009

Memanfaatkan material bambu bekas sebagai kulit fasad dan menciptakan ruang-ruang yang fleksibel dengan perabot portable.

Bambu bagi Evan Aria Putra dan Wijaya Suryanegara Yapeter bukan sekadar material biasa, tapi memiliki pengertian yang mendalam. Dua mahasiswa asal Surabaya ini menjabarkan bambu sebagai bahan yang mempunyai kemampuan berkembang dengan cepat, kuat dan dapat tumbuh bersama tanpa saling mengganggu.

Dalam desainnya rumah juga dikonsepkan dapat berkembang dengan cepat  menggunakan material yang sederhana dan mudah pengaplikasiannya, sehingga menghemat waktu pengerjaan. Rumah juga dirancang kuat, tahan terhadap cuaca, merespon cahaya matahari, udara dan thermal bangunan.

Skala Kawasan

Tumbuh bersama diterjemahkan dengan desain bangunan yang tidak saling egois dengan lingkungannya. Jadi, kita tidak hanya berpikir tentang kaveling sendiri tapi juga peduli dengan bangunan di sekitarnya. Bangunan juga didesain memiliki nilai fungsionalitas ruang yang tinggi terhadap pengguna.

Fleksibilitas rumah pun menjadi perhatian dalam desain. Rumah dirancang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan aktifitas pengguna melalui penyelesaian ruang dan detail arsitektur. Contohnya, desain perabot yang portabel dan fleksibel mengikuti kebutuhan ruang yang diperlukan. Pemanfaatan ruang-ruang sisa (negatif) yang tidak terpakai dimaksimalkan untuk tempat perabot tanam yang portabe.  “Developer belum mau menawarkan sesuatu yang baru seperti yang portable,” kata Wijaya.

Material lokal

Pilihan material diusahakan yang mudah didapat (material lokal). Pembagian antar-ruang mereduksi penggunaan dinding bata dan beton serta kayu baru semaksimal mungkin. Sebagai alternatif digunakan kembali kayu bekas peti kemas (kayu pinus) sebagai elemen perabot, penutup lantai dan dinding.

Persfektif Samping

Struktur utama menggunakan baja jenis IWF yang pengerjaannya lebih cepat dan  ramah lingkungan. Struktur baja usianya diklaim lebih tahan lama dibanding struktur beton bertulang. Lantai hanya ditutup dengan plesteran karena ingin mendapatkan kesan mentah (raw) sekaligus mereduksi biaya.

Perspektif Depan

Dinding bernafas

Sesuai dengan iklim tropis lembab di Indonesia, maka rumah dirancang dengan bukaan jendela besar untuk memperoleh angin (lorong angin). Pemasukan sinar matahari untuk pencahayaan pasif diperbanyak dengan pemasangan skylight (jendela kaca atas). Dinding fasad didesain menjadi dinding bernafas dengan menggunakan material yang mendukung terciptanya penghawaan alami di seluruh ruangan.

Untuk mengurangi silau cahaya yang masuk secara langsung ke dalam ruang, ditambahkan kulit luar (secondary skin) berupa susunan bamboo pada bagian depan bangunan. Sementara desain atap dari asbes gelombang. “Kayu semakin krisis. Maka kita pikir sebagai gantinya bambu. Bambu juga menunjukan lokalitas dan bisa lebih bagus dari kayu karena kuat,“ jelas Evan.

Denah Rumah Lantai 1

Denah Rumah Lantai 2

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>