Living in Terrace

Karya: Ebenhaezer Lontoh
Asal Kampus: Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
Luas Bangunan: 65 m2
Luas Tanah: 90 m2
Keterangan: Peringkat ke-10 dari 10 Terbaik Sayembara Desain Rumah Ramah Lingkungan 2009

Dirancang dengan volume ruang yang tinggi untuk menghadirkan kualitas ruang seperti teras.

Desain rumah hasil rancangan peserta asal Bandung ini mencoba mengangkat konsep hidup di tengah teras. Konsep teras sebagai tempat segala kekayaan tropis bisa dinikmati. Semua ruang yang bersifat massal seperti ruang keluarga, ruang makan dan ruang tamu terletak pada sebuah teras yang mempunyai volume ruang yang tinggi, sehingga area dapat dilewati oleh sepoi-sepoi angin dan terang cahaya alami. Kekayaan tropis selain dinikmati juga diadopsi menjadi salah satu bagian dari estetika bangunan.

 

Simplifikasi

Sedangkan bangunannya diterjemahkan sebagai simplifikasi dari ikon arsitektur tropis yang bersifat menaungi. Diwujudkan dengan kesederhanaan bentuk dan dominasi warna putih yang menonjol. Desainnya juga mengacu pada elemen estetika alami melalui permainan bayangan dan cahaya dan aksen hijau tanaman (nature as aesthetic). Terlihat pada fasad yang dibentuk dengan gubahan pola kotak-kotak yang menampilkan pola tertentu dan kisi-kisi vertikal di salah satu sisinya.

Mengalir

Ruang-ruang di dalam bangunan sebesar 65 m2 ini diatur agar tercipta kesan ruang yang lebih mengalir. Lantai satu terdiri dari taman, carport, teras, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan pantry. Di bawah tangga diletakkan toilet. Di sebelahnya terdapat kamar tidur utama yang dilengkapi kamar mandi. Masih tersisa taman di bagian belakang.

Dinding hanya digunakan pada ruang-ruang yang bersifat luas. Ruang utama mendapat terang dari sky light pada atap, sehingga pada siang hari ruangan menjadi terang. Kayu sisa bowplank dimanfaatkan kembali untuk menutup dinding ruang tamu. Efek light and shadow terlihat muncul dramatis ke dalam ruangan.

Sementara lantai dua diisi dua kamar tidur anak yang dipisahkan oleh tangga di bagian tengah. Di depan kamar terdapat selasar sempit memanjang yang dapat mengakses pandang langsung ke lantai bawah melalui void.

Hemat air

Untuk menjaga suhu ruang di dalam tetap nyaman, tanaman rambat juga ditambahkan pada sisi dinding bagian depan. Fungsinya menutup dinding dan menjadi buffer terhadap panas. Pipa-pipa yang mengalirkan air untuk menyirami tanaman rambat berfungsi sekaligus membawa uap air masuk ke dalam bangunan, sehingga udara dalam bangunan menjadi lebih dingin.

Strategi untuk menghemat air dilakukan dengan pengolahan air hujan. Air hujan yang turun dari atap ditampung ke dalam bak penampung air hujan. Sebagian air digunakan kembali, lalu sebagian lainnya diresapkan ke dalam tanah.

Penulis: Halimatussadiyah

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>