Rumah Bergaya Kolonial Dengan Kamar Tidur Bermezzanin

Arsitek: Triplus
Lokasi: Jakarta Selatan
Luas Bangunan: 158 m2
Luas Tanah: 9 m x 19,85 m

Fasad rumah awal

Fajar Septiadi (52) telah menempati rumahnya di sebuah kawasan perumahan di Jakarta Selatan selama empat tahun. Kondisi asli rumah berupa bangunan satu lantai dengan dua kamar tidur. Ada garasi untuk satu mobil, ruang tamu, ruang makan dan dapur.

Pemilik terdahulu meningkat rumah di bagian belakang untuk menambah tiga kamar tidur dan kamar mandi. Tampak muka rumah terkesan tetap satu lantai, tapi luas bangunan menjadi 158 m2 di atas tanah 9 x 19,85 m2.

Ruang tengah lama yang tertutup dan gelap. Di sisi kiri tampak dinding utama.

Masalah yang dirasakannya, ruang sirkulasi antar kamar di lantai atas kurang leluasa. Letak tangga di belakang yang terbuat dari konstruksi kayu juga kurang nyaman. Begitu pula tata letak ruang di lantai bawah. Ia menginginkan hubungan antar-ruang lebih mengalir dan terbuka agar tidak gelap.

Di sisi kanan adalah ruang tamu lama

Untuk tampilan fasad, bapak tiga anak itu mengidamkan nuansa rumah-rumah bergaya kolonial di Bandung. Sedangkan untuk interior ia ingin menghadirkan suasana yang berkesan kampung. Rumah juga perlu tambahan teras di bagian depan untuk memfasilitasi sang istri yang kerap menerima banyak tamu. Kamar tidur utama mau dilengkapi dengan ruang kerja.

Solusi Desain

Keinginan pemilik rumah untuk menghadirkan aliran (flow) antar-ruang yang lebih terbuka di lantai satu, kami wujudkan dengan memindahkan kamar tidur utama ke lantai atas, sehingga didapat ruang bebas yang dialih-fungsikan menjadi ruang keluarga. Konstruksi tangga baru dari beton ditempatkan bersisian dengan ruang keluarga di depan pintu masuk.

Pandangan dari pintu masuk utama yang
mengalir hingga ke taman belakang. Hubungan antar ruang terbuka dan kondisi terang.

Kini, view dari pintu masuk utama langsung menembus hingga taman belakang. Ruang makan dan kamar tidur anak di lantai satu kami perluas agar lebih lapang dan pengudaraannya lancar. Konsekuensinya, area taman menjadi lebih kecil tapi tetap bisa berfungsi sebagai area terbuka penyuplai udara segar.

Tangga baru dari konstruksi beton. Terlihat lantai dari semen alami yang diberi nat 60×60 cm

Tambahan konstruksi berupa dak beton diperlukan untuk penambahan kamar-kamar di lantai dua. Bentuk atap baru didukung dengan konstruksi rangka atap dari baja ringan. Total pengembangan luas bangunan menjadi 230 m2.

Fasad baru bergaya kolonial. Insert: Detail bingkai bukaan dan jendela dari krepyak

Untuk fasad kami aplikasikan penutup jendela model krepyak yang bernuansa jaman dulu. Di baliknya tetap digunakan jendela kaca. Tampilan semua bukaan di bagian atas juga dibingkai dengan profil persegi polos. Teritisan di bawah atap dan jendela atas yang membentuk garis lurus menampilkan gaya kolonial. Terlihat juga permainan garis pada bingkai lubang angin di atas garasi.

Area ruang tamu lama kini menjadi teras terbuka. Lantainya dari tegel motif kembang dan dinding dengan batu kali tempel

Bagian bawah dinding diberi aksentuasi berupa susunan acak batu kali. Susunan batu berwarna hitam yang di-coating mengilap itu mencirikan bangunan tempo dulu di Bandung. Supaya kental suasana kampungnya lantai keramik justru dibongkar, diganti lantai dari semen alami.

Tampilannya digaris kotak-kotak berukuran 60 x 60. Caranya dengan dicoak menggunakan mesin gerinda agar terlihat seperti nat. Di teras dihadirkan ubin tegel motif kembang yang didatangkan dari Yogyakarta. Pilihan warnanya kuning terang dan hijau tua serta aksen merah pada motif border. 

Lantai 1

  • Ruang tamu lama dihilangkan dan diubah menjadi teras terbuka. Pintu masuk utama kini didesain dengan dua daun pintu menghadap ke teras depan.
  • Setelah pintu masuk utama dibuatkan ruang penerima (foyer) yang dibatasi konstruksi tangga baru menuju lantai dua.
  • Kamar tidur utama dihilangkan dan dibuka dindingnya untuk menjadi ruang keluarga.
  • Ruang dapur ditarik ke bagian depan mengambil sebagian lahan garasi. Kini difungsikan hanya sebagai dapur kotor dan diletakkan tangga putar menuju area servis di lantai atas
  • Area ruang makan diperluas dengan memundurkan dinding lama ke arah taman belakang. Ruang makan kini hanya dibatasi bukaan berupa pintu dan deretan jendela kaca transparan setinggi pintu, guna memaksimalkan pencahayaan alami ke dalam rumah.
  • Kamar tidur di belakang dilebarkan ke samping mendekat ke taman. Posisi pintu dipindahkan sehingga berada di area ruang dalam.

Lantai 2

  • Dua kamar tidur anak yang sudah ada dipertahankan letaknya. Satu kamar tidur yang mengapit kamar mandi dipindah ke bagian depan. Ruang bekas kamar tidur kini difungsikan sebagai ruang menonton TV.
  • Kamar tidur utama diposisikan lebih rendah sekitar 1,3 m dari permukaan lantai atas sehingga didapat tinggi plafon empat meter. Sisa ruang atas yang cukup luas itu dibuat menjadi mezzanine untuk ruang kerja.

Lantai 3

  • Lantai tiga ditambahkan untuk area servis meliputi kamar tidur pembantu, tempat mencuci dan menjemur. Letaknya agak ke belakang tidak terlihat dari depan rumah
  • Akses menuju lantai tiga menggunakan tangga melingkar. Sebelum sampai lantai tiga dibuat perhentian tangga (bordes). Sisa ruang kecil di sebelah bordes untuk tempat istirahat sopir.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>