Rumah Tirai

Karya: AA Ayu Diah Shanti PK & Erwin Setiawan
Asal Kampus: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
Luas Tanah: 90 m2
Keterangan: Juara II Sayembara Desain Rumah Ramah Lingkungan 2009

Rumah dirancang secara modular dengan sistem pabrikasi dari material baja dan bisa dibangun secara bertahap

Denah Lantai 1

Denah Lantai 2

Karya dua mahasiswa arsitektur UGM tingkat akhir ini menawarkan tren baru dalam berumah tinggal. Rumah Tirai mendasarkan konsepnya pada sistem rumah pabrikasi (fabricated house). Orang tidak perlu lagi menunggu sebuah rumah utuh terbangun untuk dibeli sebagai hunian. Mereka hanya perlu membeli sebuah modul ruangan yang dapat dirangkai seperti lego raksasa.

Modular

Ramah lingkungan diterjemahkan dalam efisiensi tenaga kerja dan pengerjaan pembangunannya. Ide modular pabrikasi ditawarkan agar pembangunan rumah lebih cepat karena bisa dibangun dengan sistem bongkar pasang (knock down). Ukuran satu modul massa 3 x 3 m (PxL) dengan ketinggian total per lantai 3,5 meter.

Menjawab rumah sebagai media aktualisasi diri, Rumah Tirai memberikan kesempatan pada calon penghuni untuk menata dan menyusun rumahnya sendiri. Untuk setiap modul penghuni bebas memilih elemen penutup dan fungsi utama modul tersebut. ”Dengan baja sebagai material utama, pengisinya bisa bermacam-macam dan konsumen bisa menentukan sendiri desain rumahnya,” kata Erwin.

Efisiensi biaya perawatan rumah juga dipertimbangkan dengan bentuk desain yang simpel. Bersahabat dengan lingkungan diwujudkan melalui unsur-unsur lokalitas seperti penggunaan bambu yang diawetkan sebagai penutup luar(secondary skin).

Dua massa

Dibangun pada tapak 90 m2 dengan dimensi 9 x 10 m dimaksudkan untuk mendapatkan wujud massa yang kompak sehingga mencapai efisiensi maksimal. Terdiri dari dua massa utama dihubungkan dengan jembatan pada lantai dua yang berfungsi juga sebagai ruang bersama tambahan, dan jalur sirkulasi yang dilengkapi balkon luar.

Perspektif Depan

Gabungan dua massa bangunan itu menciptakan ruang antara yang bertujuan menghadirkan view ke dalam rumah, dengan kemampuan menangkap cahaya dan penghawaan alami. Ruang antara difungsikan sebagai void dengan atap transparan dan jalusi di bawahnya. Agar void tidak menyebabkan semua ruang di dalam rumah bermandikan cahaya ditambahkan kisi-kisi sebagai shading.

Skala kawasan

Penggunaan material pabrikasi memungkinkan pembangunan tiap unit bangunan dalam skala kawasan jauh lebih murah. Material baja yang dirancang dengan sistem bongkar pasang memberi kemudahan dalam pengaplikasian sehingga mempercepat waktu pengerjaan rumah. Baja dipilih sebagai material utama karena dapat didaur ulang. “Baja bisa dilebur dan digunakan lagi. Kalau beton tidak bisa dipakai lagi,” kata Erwin.

 

Komentar Juri Tamu

Denny Gondo

Ide desain rumah ini sangat inovatif. Meskipun konsep rumah dengan material baja pasti mahal, tapi ke depan jika dikembangkan dengan serius rumah yang dibuat secara pabrikasi bisa murah.

Suyamat

Karya ini menawarkan ide yang segar dan sangat inovatif. Terutama bentuknya yang modular dan bisa dipilih sesuai keinginan pemilik. Untuk rumah massal karena kita menjual untuk banyak orang yang seleranya beda-beda, biasanya tidak bisa seperti itu. Karya ini menunjukkan eksistensi pemilik masih bisa diwadahi. Secara keseluruhan ide rumah bisa diaplikasikan tapi tetap perlu sentuhan-sentuhan value enginering lebih jauh.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>