Desain Kontemporer Musala Al Achyar

Arsitek: Her Pramtama
Lokasi: Jl Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Area: 666 m2
Tahun: 2008
Fotografer: Susilo Waluyo

Didesain tanpa kubah, banyak mengalirkan angin, dan menembuskan cahaya alami.

Jika Anda melintas di Jl Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, persis dekat perempatan ke arah Kemang, Cipete Raya dan Cilandak, pasti bisa melihat musala ini. Sekilas tidak terlihat seperti musala pada umumnya yang selalu dihiasi kubah. Arsiteknya Her Pramtama sengaja menghilangkannya dan menggantinya dengan sebuah menara. “Kita ingin sebuah masjid terlihat kontemporer, dan keberadaannya dapat dilihat dari kejauhan melalui menaranya,” kata alumni Universitas Trisakti (Jakarta) yang juga Ketua II Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta itu.

Desain menara dihadirkan seperti kolom persegi empat pipih yang menjulang ke atas, dan tampak menyatu dengan bangunan musala. Di bagian ujungnya dicoak membentuk lengkungan menyerupai bulan sabit. Di antara warna putih dan abu-abu yang mendominasi, diselipkan warna merah menyala pada pipa baja bulat disamping menara agar menarik perhatian.

Sementara keseluruhan dinding musala dicat dengan warna abu-abu dan putih. Sebagai aksen untuk menguatkan kesan islami, disapukan warna hijau pupus pada bagian kanopi yang menerus sepanjang selasar musala hingga area wudhu luar. “Dalam merancang harus ada kesatuan antara ornamen, detail dan warna,” jelasnya.

Terbuka, terang, dan banyak angin

Karena bujet terbatas, bangunan utama musala dibuat kecil (8 x 8 m2). Sisanya berupa selasar dan memaksimalkan halaman terbuka yang luas di bagian belakang. Konstruksi utama menggunakan pipa baja bulat, agar bisa memenuhi rancangan yang bebas kolom di tengahnya. Bahan penutup atap dipilih yang ringan dari sejenis genteng aspal. Plafonnya memanfaatkan triplek yang mengalasi bahan penutup atap dengan fi­nishing melamik.

Agar tidak berkesan sempit, rancangan awal musala dibuat terbuka tanpa pintu. Tapi, kemudian ditambahkan pintu dari besi yang didesain dengan pola kotak- kotak sehingga tetap bisa menembuskan cahaya dan angin. Pendekatan desain musala ini memang diarahkan hemat energi dan ramah lingkungan. Pramtama ingin bangunan tetap adem dan terang tanpa kipas angin dan lampu di siang hari.

Seperti terlihat pada ruang salat utama. Tak ada dinding pembatas yang biasanya hadir di arah kiblat sebuah mesjid. Bagian itu justru dibuat terbuka menghadap halaman rumput hijau, menghadirkan pemandangan menyegarkan sekaligus memaksimalkan masuknya angin.

Ruang mihrab juga tidak dibalut dengan dinding massif pada seluruh sisi, hanya bagian depannya. Sedangkan dua sisi samping dibatasi dinding kaca dan lubang angin agar ruangan kecil itu tidak berkesan kian sempit.

Di bagian atap dibuat skylight dari bahan kaca es yang mampu menembuskan sinar matahari langsung ke bawah ruang salat utama. “Targetnya, dari waktu salat zuhur hingga ashar pemakaian lampu dapat dihindarkan,” ujar Pramtama.

Mengikuti aturan

Bukan tanpa alasan jika musala yang berdiri di atas tanah 666 m2 ini diletakkan mundur sejauh 15 m dari jalan raya di depannya. Ada peraturan garis sempadan jalan (GSJ) sebesar lima meter dan garis sempadan bangunan (GSB) selebar 10 m di kawasan itu. “Bangunan mesjid adalah fenomena menarik, karena sering dibangun dengan melanggar KDB (koefisien dasar bangunan), GSB, dan lain-lain dengan berlindung dibalik sentimen agama. Tapi, bagi saya sebuah masjid atau musala harus menjadi panutan untuk selalu mengikuti aturan,” katanya.

Sebagai solusinya lahan yang “terbuang” itu dikreasikan Pramtama dan timnya menjadi elemen lansekap dan sebagai ruang publik. Pada tampak depan terdapat dinding miring setinggi dua meter ditumbuhi rumput hijau, yang sebelah sisinya dicoak membentuk setengah lingkaran yang direncanakan untuk tempat duduk-duduk. Desain dinding miring sengaja diciptakan agar permanen dan tidak mudah dimodifikasi “Kalau dibuat rata akan mendorong siapapun memanfaatkan tanah terbuka itu untuk beraktivitas seperti berjualan. Dampaknya bisa merusak pemandangan,” kata Project Director PT US&P Architects itu.

Perhatian lain yang dikedepankannya adalah akses untuk pejalan kaki. Terlihat jalur pedesterian selebar dua meter, diletakkan dari bagian depan langsung menuju selasar musala. Sementara parkir mobil justru berada di bagian samping bangunan. Untuk mencapainya kendaraan harus diarahkan terlebih dulu memasuki jalan kecil tepat di sebelah musala. Penempatan area parkir ini mempertimbangkan lalu lintas di jalan utama. Terutama, pada waktu-waktu ibadah di petang hari karena musala kerap dipadati kendaraan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>